Sajak Lantang

Sajak Lantang
Sajak Lantang

Aku bukan seorang politikus, yang pandai melobi kawan dan mencari lawan
namun aku tau jika aku sedang di bodohi.

Aku bukan seorang cendikiawan, yang pandai menghafal dan tau segala tentang dunia,
tapi aku bukan orang dungu yang hanya berdiam diri.

Aku bukan seorang pemuka, yang memiliki wibawa bicara di depan halayak,
namun aku bisa bebicara lantang di depan kesalahan !!

aku bisa kapan saja menerjang kalian dan segala budaya yang kalian tanam,
kalian jumawa dan merasa aman, namun aku siap tuk melawan !!

hitung mundur kehancuran kalian, aku akan lantang bersuara.
bukan sekedar omong kosong dan segala aspek basa-basi, namun ini ancaman !!
sadar atau tidak, aku akan lantang sangat lantang tuk buktikan, budaya kalian
menciptakan orang-orang lantang seperti aku !!
dan kata aku itu akan berganti menjadi KITA .


Dia Munir ( Sajak )

Dia Munir ( Sajak )
Dia MUNIR

Bersuara lantang, membela yang ia anggap harus di bela
tak peduli berbeda, agama, ras, suku atau apapun perbedaan
berdiri di depan dan tegak menantang, dengan mengatas namakan kemanusiaan
cak munir itulah dia.

Tak peduli senapan, diculik, ataupun di desak, nyali dan optimis mengalir deras untuk sesama
demi kalimat “ tegaknya HAM di Indonesia “.

sebagian tau, ia orang benar dan seorang pahlawan bagi sesama yang ia bela
namun mau di kata apa, segelintir anjing-anjing busuk tak suka suara lantangnya
menganggap provokator pemicu semangat kalangan bawah .

di cari bahkan di kejar mereka yang berbaju hitam di malam atau siang hari
namun tak surut langkah tuk tegakan apa yang ia mau tegakkan
dia cak munir, si arab dari kota malang.

mencari orang yang di hilangkan, dibunuh ataupun di siksa
menggerogoti para pelaku pelanggar HAM, membuat mereka takut
mungkin itu alasan, alasan kenapa ia berbahaya, berbahaya bagi para anjing-anjing busuk.
Iapun pergi meninggalkan kita, pergi pada ilahi, di atas negeri penjajah kita, belanda
niat menuntut ilmu di negeri kincir, ternyata itu pesan terakhir
di atas awan ia mengembuskan semangat perjuangan, bukan karena tuhan,
tapi anjing-anjing busuk itu yang meracuni dengan zat arsetik, menusuk tubuh
membakar jiwa, mederitakan jasad dan akhirnya memejamkan matanya.
hari itu Indonesia kehilangan LAGI sosok pejuang !!

berdoa, agar ibu kita lahirkan kembali anak-anak pejuang, agar mati satu tumbuh seribu
mati 1 bernama munir lahir 1000 pejuang setipikal munir, berharaplah .

ketika ia pergi, ribuan air mata tumpah ruah, emosi membara pada siapa pelakunya
keadilan selalu terharap bagi kita penerus, adili adili dan adili mereka yang kita anggap anjing busuk, tak peduli siapapun  adili dan adili.
Kini penerus jangan lesuh dan lunglai, lanjutkan estapet perjuangan, bukan hanya diam
bukan hanya marah tapi berfikir

jangan tenggelamkan rasa berani dengan mengumpat di balik sisi ketakutan, lawan mereka yang menyiksa sesama, kejar jika mereka lari, lawan jika mereka melawan, bertempur jika mereka inginkan perang, itulah tongkat estapet para penerus.

Cak munir tersenyum, tersenyum lebar untuk para pembunuh, ia mati bukan redamkan pemicu, sebuah stimulus tajam menghujam semua hati kala ia pamit bangkitkan semangat bukan meredamnya, kasihan para anjing busuk, redamkan 1 pemberani lahirkan jutaan pemberani .

mungkin para anjing panik, mereka mungkin gundah dengan apa yang mereka lakukan, berniat meredam malah membangkitkan. Suara suara penerus sudah lantang teriakan nada seirama dengan cak munir, junjung tinggi kemanusian dan peduli sesama, mulai mengejar sang pembunuh seoarang aktivis HAM yang menjadi sosok sentral membongkar kasus kasus pelanggaran HAM .

tersenyumlah disana, di sini langkah, keberanian, semangat perjuangan orang yang bernama munir sudah berlipat ganda, terus berlipat lipat hingga tak terhitung, jangan resah dan takut kami redup bahkan hilang, TIDAK !! pelecut kami sudah tercambut keras di tubuh kami itu terus seirama dengan perjuangan dan cita cita besar seoarang yang bernama MUNIR .












Dilema Senja

Dilema Senja
Dilema Senja

Langit mulai meredup
di iringi suara muazin dari kejauhan,
ku masih berdiri dan merenung,
hingga hingar bingar suara menyepi.

Jiwa mulai terasa tenang dan nyaman
ketika nahkoda angin semilir lewati tubuh
harap cemas hujan kan turun,
ketika suara gemuruh tuhan tiba.

Aku rindu senyuman itu
tawa manis sang pujaan
yang buatku berdiri menyepi
berharap semua berhenti.

Emosi sesaat kita, tenggelamkan cinta
mungkin hujan nanti gambarkan luka
kala kita berkata dan saling menghina
aku rindu adinda ..

Senja mulai berganti gelap,
gelap tanpa cahaya, hanya lampu lampu lilin yang menyala
ku pejamkan mata berharap tuhan tahu,
dan tugaskan angin sampaikan rindu.

Datanglah, senyumlah,
temani aku di gelap ini,
gelap yang semakin menghitam, hitam pekat.
semoga tuhan cepat sebelum aku mati di ufuk tertinggi emosi ..

Aku tak mau menangis,
aku hanya ingin tertawa sedikit, Ketika bayang mengajakku berlari
dan berputar putar dalam kenangan kita,
kembali aku menghela nafas dan berkata “ kembalilah “.


Created : Docallisme Feat Crayon Social Art

Beda Koruptor beda pula Maling Ayam

Beda Koruptor beda pula Maling Ayam

            Kedua objek didalam judul ialah fenomena kriminalitas, namun terdapat perbedaan mencolok dari objek tersebut, apa yang beda?? Mungkin kita akan menyadarinya jika mata kita sering tertuju pada kaca layar tv yang seakan meneriakan mereka dari sebuah layar kaca.

            Koruptor orang yang memakan dan mengambil hak rakyat, menelan uang ribuan bahkan jutaan rakyat indonesia ke dalam dompetnya sendiri, itulah koruptor perampas hak hak, perampok dan penkhianat rakyat, beda Indonesia beda pula di china dalam cara menanggulanginya, di china koruptor sangatlan sebuah aib dan sebuah kemaluan jika melakukanya, bahwa hukuman mati jalan satu satunya dalam mempidananya. Di china ityulah yang di lakukan pemerintahnya untuk menekan tindak aksi koruptor, namun miris disini di negeri kita, korupsi adalah hal yang lumrah malah seakan budaya, bukan hal aneh jika di setiap intansi atau lembaga pemerintah ada saja kasus ini, di kepolisian, menteri pendidikan, kesehatan, migas dan kejakasaan, semua rata dengan kasus ini. Jika di china hukum mati adalah hukuman setimpal, lain pula di sini, koruptor seperti dimanjakan seperti di beri angin segar terlihat tanpa beban mereka menjalinya, penjara mewah, ijin berpergian dan keluar dari lapas atau pengurangan masa hukuman itulah realita.






BEDAKAN DENGAN MALING AYAM


            Namun apa yang membedakan mereka para koruptor dengan maling ayam, mungkin jika di beri renting dari keduanya mana yang paling malu atas perilakunya, saya memilih maling ayam, kenapa seperti itu, oke mari kita lihat, mungkin di tv sering di beri tahu berita atau cuplikan berita maling ayam yang di keroyoki warga akibat ulahnya, lihat sisi lainya, mereka setelah melakukan hal itu melutup rapat mukanya, malu akan perbuatanya dan tak mau mukanya sedikit saja di sorot media. Coba kita lihat para koruptor, jika melenggang dari kantor KPK setelah di periksa lembaga yang memberantas korupsi, mereka berjalan dengan tegaknya malah terkesan celeneh, sambil tertawa dan melihat senyum di muka media tak ada rasa malu atau niatan untuk menutup mukanya sendiri, mungkin ada yang seperti itu tapi mayoritas membuka mukanya, walau memakai jaket bertuliskan tahanan KPK namun tetap tak ada rasa malu setelah memakan uang uang yang bukan hak nya. Miris bangsa ini kehilangan sebuah moral dan sifat terdahulunya, pakah ini ambang kehancuran negeri yang kaya akan segalanya !!!!! semoga ini menjadi awal dari kebangkitan bangsa ini dari tidurnya yang panjang, tegaknya keadilan dan kebenaran di semua ranah lembaga pemerintahan. semoga tuhan tak bosan melihat bangsa ini !!




Dialog Dini Hari ( puisi )

Dialog Dini Hari ( puisi )
Dialog Dini Hari

Cahaya Fajar menusuk hati
membukakan mata pada yang telah mati,
yang coba hubungi diri yang masih disini
berdioalog seperti masih berdiri.

Singkat kata singkatkan cerita,
terkadang hanya diam semata
melihat dan melambai,
 seakan rindu.

Tuhan mungkin tau,
keluh kesah sang buah hati
yang tersimpan dalam hati
miliki sejuta arti .

Dialog singkat,
berujung embun dimata
yang selimuti muka,
inilah karunia.

Tuhan oh Tuhan ..
waktumu waktuku,
bisakah kau ulang?
tuk sedikit saja tuk mengulang,
yang indah tuk diingat .

Created : Docallisme feat Crayon Social Art

Tahun yang Katanya Demokrasi

Tahun yang Katanya Demokrasi
Tahun yang Katanya Demokrasi

                Tahun demokrasi, itulah segelintir orang menyebut tahun ini, tahun pemilu atau pemilihan umum. siapa yang tidak tahu, 5 tahun sekali kita merayakan dan menyambut tahun seperti ini, tahun pemilihan presiden 5 tahun kedepan dan melilih caleg caleg yang sudah menggemborkan namanya agar dipilih. Tahun ini Indonesia akan memilih semua wakil rakyatnya untuk 5 tahun kedepan, 5 tahun kedepan kita akan di tentukan oleh pemilu ini, jika kita selektif memilih maka akan tenanglah jiwa dan raga, jika berbalik, maka jangan heran akan terjadi kesalahan mekanisme Dalam negeri ini, karena para wakilnya di plilih secara acak tak sesuai kelayakan !!
            Jika kita sadar di jalan jalan sudah mulai peperangan para calon wakil rakyat kita untuk mendapatkan simpatik warganya agar kelak di pilih, kali ini saya akan sedikit memberi tahu anda tentang itu, tanda tanda jika tahun pemilu datang :
1. Setahun sebelum pemilu berlangsung biasanya sudah muncul orang-orang yang bahasa gaulnya CAPER di halayak public, sering muncul di media dan gembor-gemborkan rencana atau aktivitas sosial yang ia lakukan saat itu. Dan setiap bicaranya agak menjurus ia mampu membenahi negeri ini dari apa yang terjadi, misal kasus korupsi, ia beranggapan bisa menyesaikan kasus kasus korupsi . apa lagi tahun ini setiap calon presidenya punya media tv masing masing, yang secara logika sangatlah muda memperkenalkan dirinya di setiap jam jam berranting tinggi, tugas kita hanyalah selektif dan tahu mananya janji asli dan palsu yang semakin sulit di bedakan !!

2. Setelah itu, mungkin yang paling biasa di tiap tahunya, apa lagi jika bukan poster, baliho atau famplet para CALEG yang terpampang di setiap sudut ruang public, entah ini cara lama bukan? cara yang menurut saya membuang dana malah menjurus pada merusak estetika kota, kota kotor atau terlihat kusam oleh ulah para kader kader partai atau simpatisan CALEG. Mungkin jika rakyat yang pintar ialah rakyat yang memilih para wakil yang tahu dan paham jika cara ini sama sekali tak menyentuh rakyatnya itu sendiri, jika kita bayangkan berapa dana mereka untuk print out banner, baliho atau stiker mungkin puluhan juta mereka gelontorkan untuk misi memperkenalkan mereka atau lebih jelasnya muka mereka(padahal dalam kertas pemilu nanti, foto tak di sertakan hanya nama si CALEG saja) siapa yang bodoh atau mereka punya misi lain, coba saja mereka putar cara jangan  cara yang sudah kusam ini, coba buat inovasi bukan menempel muka muka mereka di sana sini, jika saja uangnya di salurkan ke daerah dapil mereka dengan intrik inovasi dan membantu dapil mereka untuk maju dan ikut serta menampul aspirasi dapilnya mungkin lebih efisien dan mungkin dapat kena langsung dampaknya ke rakyat itu sendiri. Seharusnya para CALEG sadar cara yang saya sebut hanya judi ini sudah seharusnya di lupakan dan berinovasi lagi.

3. Jika kita amanti di sekitaran rumah baik di genteng atau halaman rumah, atau di jembatan atau di lapangan, pinggir jalan dimanapun tempat yang bisa di ikatkan bambu pastilah di situ berkibar bendera berbagai warna hijau, putih, kuning, merah atau pink semua lengkap dengan icon masig masing, dan nomor urut partai tersebut menghiasi setiap sejauh mata memandang tanda ini jelas sudah mendekati tahun atau bulan politik di Indonesia dan sangatlah jelas sangat mengotori ruang public dan timbul di benak saya siapa yang nantinya membersikan itu semua di ruang public nantinya ?

4. Semakin dekat hari pemilihan umum semakin gencar pula kerja CALEG untuk mendapatkan hati rakyatnya atau daerah pilihanya, tak sadar di setiap acara baik majelis, reunian, seminar atau arisan tak luput dari kunjungan para CALEG yang kian giat sambangi tempat itu, berawal kunjungan berakhir ajakan untuk memilih beliau untuk di pilih nantinya. Di momen inilah kerja para CALEG mulai bergerilya mencari simpatik dan sekuat tenaga untuk bisa menarik animo dapilnya segera tetap kan pilihan padanya.

5.  Nah ini yang semakin gawat, biasanya ada waktu untuk partai berkampaye di halayak publik, sayangnya dan anehnya, konon hiburan rakyat katanya, namun dangdut yang erotis malah jadi pilihan, boleh anda lihat di desa-desa setiap partai mengandeng biduan-biduan cantik untuk menghibur para kader dan pendukung partai tersebut, boleh boleh saja jika cara ini memang di sukai warganya, namun apakah dengan hal tersebut Negara kita akan maju apakah dengan hiburan yang seronok itu rakyat akan mengerti misi dan visi partai yang ia dukung ataukah mereka datang memang bertujuan melihat kemolekan tubuh tubuh gadis seksi saja !! pikirkan baik-baik !!, mengapa tak merubah cara dan berinovasi lebih baik, cerdaskan bangsa dengan cara berkampaye yang cerdas, juru kampanye seharusnya merubah cara ini, mengapa tak dilakukan pelatihan atau seminar walaupun cara ini akan minim peminat nantinya namun hal ini bisa cerdaskan bangsa, bukan tontonan erotis ataupun seronok yang di tampilkan.

6. Nah ini mungkin klimaks dari tahun Demokrasi, setelah pemilihan usai dan pemenang di ketahui, dimanakah yang kalah ?? yaap, di rumah sakit jiwa tepatnya, mereka para CALEG yang sudah menggelontorkan hartanya bahkan seluruh tabunganya dan kalah akan depresi dan stress, biasanya jauh jauh hari sudah di siapkan rumah sakit jiwa para CALEG karena setiap tahunya pasti ada hal yang demikian, miris memang dan memang sudah cara yang mereka lakukan salah, kalah pula dan berujung gila. Uang melayang harta terkuras anak istri terbengkalai, nah seharusnya jangalah mengandalkan uang untuk menarik simpatik dan berfikirlah berkali kali jika di suruh ikut menjadi CALEG, bukan hanya Uang yang di butuhkan tapi pemikiran dan kecerdasan, karena CALEG wakil rakyat, wakil rakyatnya bodoh bagaimana rakyatnya, kita berpangkuh padanya jika mereka tak bisa bagaimana mau di pilih, mari selektif dalam memilih nantinya, CALEG yang berkualitas mempunyai cara sendiri dalam menyampaikan visi misinya mungkin bukan memakai cara cara di atas, saya yakin di tumpukan orang munafik masih ada sesosok orang jujur yang bisa merubah negeri ini .

            Dari sekilas yang saya paparkan, mungkin ini versi saya. Semakin dekat pemilu negeri ini, tahunya demokrasi, presiden sampai ke calon DPRD akan di pilih di bilik suara nantinya, apakah yang berkompeten yang terpilih ataukan yang hanya memamerkan janji janji palsu yang naik ke kursi itu, saya yakin rakyat kita sudah dewasa dan tau siapa yang harus di pilih dan di abaikan. “ 5 menit di bilik suara menentukan 5 tahun kedepanya “ mungkin kata kata itu yang seharusnya kita teriakan jangan ada lagi golput atau tak memilih, pilihlah sesuai nurani dan pemikiran jangan mau di bodohi janji manis belaka !!!


Created : Docallisme feat Crayon Social Art

Kemanakah yang bersuara !!

Kemanakah yang bersuara !!
Kemanakah yang bersuara !!

            Ketika dulu saya duduk di bangku SMA bayang tentang menjadi seorang mahasiswa sudah ada di bayang bayang, ketika itu di pikiran saya menjadi mahasiswa adalah hal terlihat menantang, menarik dan pastilah berteriak-teriak untuk membongkar apa yang kita anggap hal yang salah, apa lagi di tv selalu terlihat aksi aksi solidaritas mereka di jalan untuk menuntut kasus ataupun sekedar aksi kecil untuk aparatur pemerintah yang melakukan kesalahan, sungguhlah hal yang sangat menantang adrenalin, disaat kita berhadapan dengan para polisi yang mengawal kita saat aksi dan berteriak langtang untuk mereka kaum  berdasi lapar di senayan atau untuk mereka yang membunuh para orang orang benar di negeri ini, namun ketika saya masuk kuliah di salah satu Universitas negeri di Jakarta hal itu hanyalah bayangan iya hanya bayangan semata .
            Ketika saya berstatus mahasiswa, tak terlihat aksi aksi itu lagi, apa negeri ini sudah kembali pada trek positif yang di dambakan orang kebanyakan?? Apakah negeri ini telah insyaf dan bangun dari mimpi buruknya selama ini?? Salah besar ketika kita ucapkan itu, negeri ini masi porak poranda dengan manusia manusia rakus yang hingar di atas puncak jabatan mereka, masih lapar belum kenyang memakan yang bukan haknya, ketika hal itu saya sadari timbulah pertanyaan dimakah yang bersuara itu?? Kemanakah mereka tak terlihat di jalan meneriakan apa yang seharusnya mereka teriakan.
            Kenyakinan saya bertambah, ketika salah satu sahabat karib saya berkata “ Mahasiswa kita telah bisu, tak lagi bisa bicara “. Ketika itu hati saya bergetar keras seakan menerima kabar buruk, jelas kabar ini sangatlah buruk untuk kita semuanya, kabar yang sangat tak mengenakan sama sekali apa lagi kita yang masih berseragam almamater kampus masing masing. Kenapa saya beranggapan seperti itu, saya teringat cerita teman dulu ketika masih semester 1, ketika dia sedang naik angkutan umum, kala itu buming isu kenaikan harga BBM, teman bercerita di dalam angkot dengan si supir yang terlihat agak kritis menanggapi hal kenaikan BBM menurut versi ia sebagai supir angkot, ketika itu teman saya bertanya “ kenapa engga demo ajah pak ama supir yang lain “. Mungkin pertanyaan dasar ketika kita berada di posisi itu, si sopir menjawab pertanyaan tadi dengan enteng “ yaaa, kita mah nunggu mahasiswa tong, mahasiswa yang gerak duluan kita bakal ngikut di belakangya “. Dari cerita ni saya sedikit kagum, berarti inilah tugas mahasiswa, menyampaikan aspirasi rakyat, dan rakyat juga bergantung pada kita mahasiswa, bagaimana mau menyamoaikan aspirasi jika ksebagaian besar mahasiwa diam,  saya kira hanya dikampus saya yang demikian, namun ternyata di kampus lain juga seperti itu, apakah mereka bosan dengan aksi semacam itu?? Pertanyaan besar buat kita kaum penerus.
            Mungkin karena zaman teknologi yang apa apa bisa kita lakukan dengan tombol dan berkicau di semua sosial media, namun apakah dengan berkicau kita bisa merubah semuanya?? Saya jadi teringat salah satu aksi mural di jalan yang meneriakan kalimat “ lebih baik 1 tindakan dari pada 1000 kali berkicau “. Mungkin benar kalimat itu, berkicau sama dengan tak bertindak jika tak bertindak tak ada perubahan, seperti halnya mobil mogok, jika kita hanya berteriak “ mobil ayoo jalan “ apakah mobil akan bergerak?? Jawabnya pastilah tidak, butuh tindakan yaitu mendorongnya dengan tenaga.
            Semoga zaman bisu ini berlalu, dan semua pemuda bukan hanya mahasiswa bisa kembali berteriak melawan ketidak benaran bukan hanya bisu bukan hanya berdiam diri dan berkicau di jejarin sosial saja, tapi mulai sedikit melakukan aksi aksi kecil untuk kembali balikan gairah untuk menentang ketidak benaran .


Created : Docallisme Feat Crayon Social Art

Jika Cinta, Berhentilah Korupsi !!!

Jika Cinta, Berhentilah Korupsi !!!
Jika ditanya soal kecintaan kita kepada bumi pertiwi ini, jangan di ragukan semua akan bilang "saya cinta Indonesia" atau "Indonesia sampai Mati ".Bukti lebih nyatanya, jika benar semua rakyat cinta terhadap Bumi indonesia bisa kita lihat, stadium selalu penuh kala Timnas merah Putih berlaga, entah cabang sepak bola, bulu tangkis ataupun basket semua sesak dengan penonton yang mengaku bernasionalisme untuk merah putih.semua warga negara bukan hanya di Indonesia bahkan di luar sanapun jika ditanya betapa ia mencintai negerinya pastilah memiliki jawaban yang sama dan beragam yang berintikan ia cinta tanah airnya. Tanah yang memberikan mereka minum, makanan, kehidupan dan kebebasan, dan ia akan menjaganya dan mempertahankan kekokohan negara kesatuanya masing masing.

Namun, semua bisa di bilang berbeda jika di lihat dari sisi yang lain, sebuah rasa cinta tanah air mulai meredup di kalangan pejabat atas, aparat pemerintah, aparatur negara dan lain lainya, semua tertunduk, semua terbudaki dengan uang, uang benar dengan uang, bukan uang yang meraka cari dengan jerih keringat mereka !! namun uang kita, uang rakyatnya sendiri.

Mereka di pilih bukan di lotre oleh rakyat, amanat dan kepercayaan mereka belakangi dengan uang, apa daya rakyat kecil hanya meringis berteriakpun tak di dengar, hanya berharap tuhan melihat dan membalasnya kelak. Uang hasil menguntit, uang Hasil berbohong, uang hasil proyek, uang pajak, semua uang Korupsi yang mereka lakukan di sembunyikan hingga tiba saatnya tertangkap, kejar mengejar petugs mencari mereka, main kucing dan tikus di atas tanah pertiwi.

Jika mereka cinta dengan negerinya, sayang dengan tanah yang mereka injak tak mungkin mereka berniat melakukan itu, hasratpun takkan ada. mungkin lingkaran setan telah memanggilnya untuk masuk dan melupakan kecintaanya pada negerinya. sungguh Ironis negeri yang kaya, negeri yang sangat beragam, negeri yang eksotis ini harus merongrong harus tertatih dan kesakitan melihat penghuninya berlaku liar di atas tanahnya. Berhentilah mualailah tersadar !!

Sudah banyak Kasus kasus Korupsi tiap harinya, jangan kau ciptakan lagi dan lagi, bertilah dan sadarlah apa yang engaku lakukan meregukan bukan hanya orang lain bahkan dirimu sendiri !!

Jika cinta, Cinta dengan tanah airmu yang memberikan segalanya untumu, jangan kau dustakan penghuninya kau khianati penghuninya, terjajah 350th dari belanda sudah cukup panjang, jangan kau jajahi kamu dengan aksi Korupsi mu !!




twitter